User login

Counter

  • Site Counter: 133,437
  • Unique Visitor: 5,575
  • Registered Users: 85
  • Unregistered Users: 2
  • Server IP: 192.168.1.3
  • Your IP: 38.107.191.96
  • Since: 2010-06-27 07:44:15
  • Visitors:
  • Today: 189
    This week: 3374
    This month: 2639
    This year: 128529

Simposium Di RSPAD GS

PELAKSANAAN KEGIATAN SIMPOSIUM
 DI RSPAD GATOT SOEBROTO
 
 
           Departemen Ilmu Kesehatan dan Anak RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad, merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang melayani pasien anak dengan bermacam-macam keluhan/penyakit, diantaranya “ Anemia, Kejang karena Demam, Ikterius pada bayi dan Infeksi Dengue”. Berangkat dari adanya keluhan, kecemasan dan ketakutan dari orang tua, serta peningkatan Sumber Sumber Daya Manusia dan mutu dokter praktek maka Departemen IKA RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad tanggal 15 April 2010 menyelenggarakan Simposium “Masalah Kesehatan Bayi dan Anak dalam Praktek”.

topik dan pembicara : a. Masalah Anemia Pada Anak oleh dr. D. F. Amirani, Sp.A b. Tata Laksana Kejang Demam oleh dr. Huiny Tjokrohusada, Sp.A c. Ikterius Pada Bayi oleh Letkol Ckm (K) Ida Mardiati, Sp.A d. Tata Laksana Infeksi Dengue Pada Anak oleh Mayor Ckm dr. Rachmanto HAS, Sp.A. 

 Masalah Anemia Pada Anak.

 
          Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin atau hematokri dalam darah kurang dari batas normal, yang sesuai usia (bayi dan anak) < 11g/dL (usia 6 bulan -<5 tahun) dan Hb < 12g/dL (usia 5 tahun-14 tahun), atau jenis kelamin (dewasa). Rendahnya kadar hemoglobin itu mempengaruhi kemampuan darah menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh yang optimal. "Anemia defisiensi besi” ini dapat diketahui dari pemeriksaan hemoglobin (Hb). Jika Hb kurang, dapat dikatakan anak tersebut menderita anemia. Karena fungsi Hb adalah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Karena zat besi berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin, maka jenis anemia defisiensi besi ini merupakan jenis kasus anemia yang paling banyak ditemui. Data WHO menyebutkan sekitar 2 miliar penduduk dunia terkena penyakit tersebut.
 
          Pengelompokan anemia pada anak yang paling umum digunakan ada 5 (lima) yaitu : Anemia defisiensi, Anemia hemolitik, Anemia aplastik, Anemia pasca perdarahan dan Anemia akibat keganasan.
 
           Pendekatan diagnosis anemia pada anak dapat dilihat dari :
      1. Anamnesis (anamnesis yang baik mengarah pada kemungkinan penyebab seperti faktor pencetus, usia, jenis kelamin, makanan) dan Pemeriksaan fisis (muka/wajah, mata, kulit dan mukosa, kuku, gangguan neuromuscular dan gangguan gastrointestinal)
 
       2. Pemeriksaan darah :
  • Darah tepi lengkap
  • Indeks sel darah merah MCV, MCH, MCHC
  • Hitung retikulosit
  • RDW (Red cell volume Distribution Width)
  • Apus darah tepi 2.
          Cara mengatasi anemia dengan 2 (dua) pencegahan, yaitu :
      1. Pencegahan Primer meliputi :
  • Intake adekuat (ASI ekslusif selama minimal 6 bulan dan dengan susu formula yang sudah difortifikasi zat besi dibatasi 24 oz/hari).
  • Suplementasi besi elemental.
      2.  Pencegahan Sekunder meliputi :
  • uji tapis terhadap bayi/anak dengan risiko mengalami ADB
  • Bayi cukup bulan, dilakukan pada usia 9-12 bulan
  • Bayi prematur/BBLR, dilakukan pada usia 6 usia
  • Balita dengan riwayat ADB
  • Mengkonsumsi susu > 24 oz/hari
  • Pola makan < mengandung Fe dan vitamin.
 
Bagaimana mengobati Anemia pada anak :
  1. Konsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab anemia
  2. Pengobatan disesuaikan dengan penyebab anemia
  3. Jangan mengkonsumsi suplemen zat besi tanpa konsultasi dengan dokter
  4. Suplementasi besi elemental
Tata Laksana Defisiensi Besi dengan :
  1. Besi elemental 3-6 mg/kgBB/hari, dibagi 2-3 dosis
  2. Pemberian selama minimal 2 bulan, diharapkan member pengaruh pada kadar Hb
  3. Efek samping : keluhan gastrointestinal
  4. Koreksi etiologi e Modifikasi diet
Tata Laksana Kejang Demam
 
            Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia 3 tahun. Tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam. Selama anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki, atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya. Klasifikasi Kejang Demam, teridiri atas Kejang demam komplek, Kejang demam sederhana dan Kejang demam plus (Febrile Seizure plus).
 
             Apa yang terjadi kalau kejang lama, usahakan obat-obatan untuk penanganan kejang selalu tersedia di ruangan. Penanganan pasien dengan status konsulvius bukanlah hanya menghentikan kejang saja, tetapi keadaan yang sering menimbulkan kematian adalah komplikasi sistemik yang terjadi pasca status 3 konvulsivus, serta pengenalan dini, intervensi yang adekuat, pencegahan beberapa komplikasi menjadi lebih berat sangatlah penting diperhatikan .
 
Pengobatan setelah pasien pulang, teridiri atas :
  1. Pengobatan Rumat, diberikan terus menerus selama 1 tahun dan hanya untuk kejang demam dengan indikasi tertentu. Obat yang digunakan Asam valproat 15-40 mg/kg BB dan Phenobarbital 4-5 mg/kg/hari.
  2. Pengobatan Intermiten, diberikan apabila berulangnya kejang demam dapat dicegah dengan beberapa usaha pada saat anak mengalami demam. Obat yang digunakan Parasetamol 10-15 mg/kg/kali dan Ibuprofen 10 mg/kg/kali (dosis max 200 mg).
           Berapa banyak yang menjadi Epilepsi, untuk kejang demam sederhana 2-4 % selebihnya tergantung faktor risiko seperti status neurologis abnormal, epilepsi pada orang tua atau saudara kandung dan berlanjut menjadi kejang demam komplek.
 
           Bagaimana mengobati Epilepsi, tentukan klasifikasi sindrom dan bangkitan, tentukan kasus yang dapat diobati sendiri, tentukan apakah perlu diobati, lakukan monoterapi pertama (sangat menentukan), monoterapi kedua, politerapi dan terakhir pembedahan.
 
Ikterus Pada Bayi
 
           Ikterus adalah pewarnaan kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah dengan bilirubin serum ≥ 5 mg/dl dan biasanya mulai pada sclera, muka dan meluas secara sefalokaudal, dada, perut dan ektremitas.
 
           Ikterus terjadi apabila terdapat bililirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama dalam kehidupannya. Dikemukakan bahwa kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada bayi 80% bayi kurang bulan. Ikterus ini pada sebagian lagi bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. Karena setiap bayi dengan ikterus harus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar bilirubuin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam.
 
Klasifikasi Ikterus :
  1. Ikterus Neonatus, yaitu disklorisasi pada kulit atau organ lain karena penumpukan bilirubin, timbul setelah 24 jam berlangsung ± 7-14 hari, terutama bilirubin indirek, kadar tertinggi bilirubin total < 15 mg % dan bilirubin direk < 2 mg % serta tidak ada kelainan patologis lain
  2. Ikterus fisiologis, yaitu ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga (pada minggu I kehidupan) yang tidak mempunyai dasar patologis, kadar bilirubin meningkat tidak melewati kadar yang membahayakan atau 4 mempunyai potensi menjadi “kernikterus” dan pada penurunan ekskresi bilirubin tidak menyebabkan morbiditas pada bayi.
  3. Ikterus non fisiologis, awitan sebelum usia 24 jam, tingkat kenaikan > 5 mg/dl/jam, ikterus berkepanjangan, adanya tanda-tanda penyakit lain dan peningkatan bilirubin direk > 20 % dari bilirubin total
  4. Ikterus patologis, yaitu ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
            Inkompatibilitas ABO, disebabkan oleh antibody anti A dan anti B yang masuk dalam sirkulasi fetus dan bereaksi dengan antigen A atau B pada permukaan sel darah merah.
 
Diagnosis Ikterus, meliputi :
  1. Riwayat (masa kehamilan dan usia kronologis, kapan timbul, golongan darah ibu dan abayi, mendapat ASI eksklusif, anak sebelumnya ikterik, ada morbiditas (sepsis, asfiksia)
  2. Pemeriksaan fisik (usia kehamilan, aktifitas pemberian minum, kadar/derajat ikterus, pucat, hepatosplenomegali, memar, sefalhematom)
  3. Uji laboratorium meliputi kadar bilirubin total dan direk, golongan darah ibu dan tipe rhesusnya, golongan darah bayi dan tipe rhesusny, uji comb’s direk pada bayi, kadar Hb, sediaan apus darah, hitung retikulosit.
            Penatalaksanaan Ikterus Neonatorum terdiri atas mengobati penyebabnya, bila infeksi beri antibiotik, memperbaiki hidrasi pemberian asupan dini, terapi sinar dan transfuse tukar.
 
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  1. Ikterus timbul pada usia < 24 jam kehidupan
  2. Kenaikan bilirubin yang cepat > 5 mg % dl
  3. Ikterus pada BBLR dan bayi premature
  4. Bayi dengan ikterus berkepanjangan, feses akolik, organomegali
Demam Berdarah Pada Anak
 
           Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropood Borne Virus (Arbiviroses) dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut.
 
           Kriteria Kasus DBD (WHO, 1997), Demam atau riwayat demam akut 2-7 hari, bifasik, manifestasi perdarahan minimal dengan uji tourniquet (+), terdapat hematomegali, adanya tanda-tanda gangguan sirkulasi, trombosit < 100.000/ul dan 5 adanya bukti kebocoran plasma ditandai dengan peningkatan Ht ≥ 20 % dari nilai rata-rata dan penurunan Ht ≥ 20 % setelah terapi cairan serta efusi pleura, ascites, hipoproteinemi .
 
Derajat Penyakit DBD :
  1. DBD derajat I, demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji tourniquet positif
  2. DBD derajat II, seperti derajat I disertai perdarahan spontan
  3. DBD derajat III, terdapat kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah, dieresis berkurang
  4. DBD derajat IV, Syok berat (profound shock): nadi tidak dapat diraba, dan tekanan darah tidak dapat diukur
 Pengobatan Demam Dengue :
  1. Tirah baring selama demam
  2. Berikan antipiretik (anjuran parasetamol, kontraindikasi : asetol, ibuprofen)
  3. Analgesik bila perlu (anak besar)
  4. Cairan dan elektrolit oral
  5. Monitor (keadaan umum, suhu, hematokrit dan trombosit).
Tanda Syok pada DBD :
  1. Keadaan umum mendadak memburuk, gelisah atau lelangi
  2. Nyeri perut merupakan tanda awal syok (anak besar)
  3. Akral dingin, nadi cepat dan lemah
  4. Penyempitan tekanan nadi (perbedaan antara sistolik dan diastolic ≤ 20 mgHg) atau hipotensi
  5. Capillary refill memanjang > 2 detik
  6. Oliguria (dieresis < 1 ml/kgbb/jam
  7. Hematokrit tetap naik walaupun sedang mendapat caitan intravena.
 Pengobatan DBD tanpa Syok (derajat I dan II) :
     1. Cairan.
  • Minum 2 liter/hari mencegah dehidrasi (apalagi apabila disertai muntah, anoreksia, demam tinggi)
  • Air putih, juice buah, larutan oralit.
     2. Simtomatik.
  • Antipiretik apabila demam tinggi atau riwayat kejang demam
  • Anjuran parasetamol (asetol dan ibuprofen kontra indikasi)
  • Domperidone 1 mg/kgbb/hari, 3 dosis, 1-2 hari.
Indikasi memulangkan penderita :
  1. Tampak perbaikan secara klinis
  2. Tidak dijumpai distress pernafasan
  3. Lebih dari 24 jam bebas demam tanpa antipiretik
  4. Lebih dari 48 jam (3 hari) setelah syok teratsi 6
  5. Hematokrit stabil
  6. Jumlah trombosit cebderung naik ( > 50.000 mm³). 

Ads here...