Monumen Kesehatan

SEJARAH KESEHATAN YANG MULAI TERLUPAKAN :
MONUMEN KESEHATAN ANGKATAN DARAT
DI DESA CIGUGUR KECAMATAN CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN
PROPINSI JAWA BARAT
 
Oleh :
Mayor Ckm Dr. Purwo Setyanto, Sp.B
WAKIL KOMANDAN DENKESYAH 03.04.03 CIREBON
KESDAM III / SILIWANGI

 
 

 

          Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa – jasa pahlawannya. Jangan meninggalkan sejarah. Banyak sekali pepatah juga ungkapan – ungkapan yang menyadarkan kita akan pentingnya mengenal, mempelajari, menghormati serta mengamalkan apa – apa yang telah terjadi di masa lampau. Tidak hanya untuk dikenang saja tetapi kita harus mampu mengambil sari pati hikmah yang terkandung di dalamnya, serta menjadikan pelajaran berharga untuk pengabdian kita di masa yang akan datang. Salah satu nilai sejarah khususnya sejarah perjuangan kesehatan yang terdapat di wilayah Cirebon Jawa Barat adalah Monumen Kesehatan Angkatan Darat yang terletak di Desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat.
 

          Kota Kuningan terletak kurang lebih 50 km di sebelah selatan Cirebon. Hawanya sejuk dingin karena terletak persis di kaki gunung Ciremai dengan kontur tanahnya naik turun.

Monumen Kesehatan Angkatan Darat di Desa Cigugur Kec. Cigugur Kuningan

          Monumen Kesehatan Angkatan Darat memiliki ketinggian 4 meter diatas pondasi lantai dudukan, terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya dan tidak terpisahkan. Bagian – bagian yang dimaksud dari bawah ke atas adalah sebagai berikut :
 
a. Dasar pondasi lantai dudukan, merupakan inti yang mendasar.
b. Bokor, merupakan Lambang Kuningan, dengan delapan tangkai dan 17 bunga warna kuning.
c. Kedua tangan, Lambang Ibu Pertiwi menerima bayi yang baru lahir.
d. Lambang Kesehatan Angkatan Darat :

  1. Daun Sambiloto, obat-obatan tradisional yang mujarab.
  2. Burung Garuad, Sang Garuda, dalam hikayat Ramayana telah ,menyelamatkan / mengobati pasukan penyelidik dibawah pimpinan Hanoman.
  3. Hesti Wira Sakti, mengejar keperwiraan dan kesaktian pada setiap prajurit.

e. Topi baja dengan tanda Palang Merah di bagian depannya, merupakan tameng / daya tahan / daya tangkal dari setiap datangnya gangguan / penyakit.
 

Foto bersama Dandenkesyah 03.04.03 Cirebon dengan Perwira, Bintara dan Tamtama di depan Monumen Kesehatan Angkatan Darat.

          Di bagian depan monumen terdapat prasasti yang berbunyi “Prasasti DKT-KMD I Desa Cigugur – Kuningan – Cirebon. Pada tanggal 1 September 1949 di desa Cigugur dibentuk Dinas Kesehatan Tentara Komando Militer Daerah I yang perkembangannya menjadi Detasemen Kesehatan Wilayah 03.04.03 Cirebon dengan Rumah Sakit Ciremai sebagai sarana untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi Prajurit, PNS, keluarganya serta masyarakat Umum. “
          Monumen Kesehatan Angkatan Darat ini diresmikan pada tanggal 15 Oktober 1997 oleh Komandan Resot Militer 063 / Sunan Gunung Jati Kolonel Infanteri Oding Mulyadi. Monumen ini terletak di tengah lapangan Desa Cigugur dengan dikelilingi oleh Kanto Lurah Cigugur, Cantor Kecamatan Cigugur serta terdapat sebuah masjid Jami’ yang megah.
 
SEJARAH PERJUANGAN KESEHATAN ANGKATAN DARAT DI WILAYAH CIREBON
 
          Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, bangsa Indonesia harus memiliki keuletan dan ketangguhan serta mampu mengembangkan kekuatan nasional dalam mengahadapi setiap ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan baik yang datang dari luar maupun yang timbul dari dalam negri sendiri yang langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi identitas, integritas dan kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta tujuan nasionalnya.Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, didaerah –daerah dibentuk laskar perjuangan, yang berkembang dari BKR, TKR, TRI sampai akhirnya terbentuk TNI. Sejak terbentuknya laskar-laskar perjuangan tersebut Kesehatan Angkatan darat telah berperan serta secara aktif, memberi bantuan kesehatan, sekalipun dengan obat-obatan dan alat kesehatan yang sangat sederhana.

          Personil kesehatan waktu itu diambil dari petugas palang merah, bekas tentara Jepang dan juga dari pemuda biasa yang mendapat pendidikan kilat tentang kesehatan. Kesehatan angkatan darat waktu itu disebut dengan Dinas Kesehatan Tentara ( DKT ), dan selanjutrnya dirubah menjadi Djawatan Kesehatan Tentara.
          Di daerah Cirebon dan sekitarnya terdapat kesatuan tentara dari Divisi II SGD, dengan kepala DKT Divisi adalah Letkol dr. Tarekat.. Divisi I dan Divisi II didaerah Jawa Barat sejak 20 Mei 1946 dilebur menjadi Divisi III / Siliwangi. Kepala Djawatan Kesehatan Divisi III / Siliwangi adalah Kolonel dr. Tarekat.
          Setelah pembentukan Siliwangi ini di daerah Cirebon dan sekitarnya terdapat 5 Batalyon Infantri :
  1. Yon Inf.I Di kota Cirebon dengan kepala DKT / Tonkes Kapten Sunanto
  2. Yon Inf II Di Jatiwangi dengan Kepala DKT/ Tonkes Kapten Gayat
  3. Yon Inf III di Indrtamayu dengan Kepala DKT / Tonkes Kapte Nata
  4. Yon Inf IV Di Kuningan dengan Kepala DKT / Tonkes Kapten Arim Permadi
  5. Yon Inf V Di Majalengka dengan Kepala DKT / Tonkes Kapten Hardja 

           Tanggal 22 Juli 1947 terjadi penyerbuan Pasukan Belanda ke Cirebon.Cirebon dapat dikuasi dengan mudah tanpa perlawanan yang berarti, karena batalyon-batalyon yang ada sedang bertugas di daerah Bandung, hanya ada Yonif IV di daerah Kuningan. Taktik perang gerilya selama perang kemerdekaan membuat Yonif dirubah menjadi pasukan gerilya. Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) YON.IF IV di Kuningan merupakan Ton Kesehatan Lapangan di pimpin oleh Kapten Arim dengan beberapa orang Perwira, Bintara dan Tamtama. Ton Kesehatan YON. IV bermarkas di komplek Bungkirit Cigugur Kuningan bertugas :

  • Melayani pengobatan, perawatan kesehatan para anggota YON. IV dan keluarganya baik berobat jalan dan rawat inap.
  • Selain tugas rutin pelayanan kesehatan, personel kesehatan bergiliran bertugas digaris depan ( Demarkasi lini ) di front- front Jakarta Timur (Bekasi/Tambun ),Bandung Utara dan Timur (Padalarang, Lembang, Ujungberung,Gedebage,Cileunyi).

          Ton Kesehatan YON.IV merupakan satuan bantuan yang cukup potensial dalam menanggulangi ekses - ekses kesehatan anggota YON baik korban pertempuran dengan Belanda juga pelayanan penangulangan menurunnya derajat kesehatan antara lain disebabkan :

  • Penyakit kekurangan gizi, pasukan hanya dapat makan dua kali sehari nasi dicampur jagung dengan lauk-pauk sayur gori, sayur kangkung, ikan asin teri, tidak pernah makan daging.
  • Wabah malaria dan mencret, karena tempat tinggal / pertahanan digubug-gubug darurat, tanpa alas tidur, tanpa selimut, malam hari tidak boleh menyalakan api, pakaian yang hampir tidak pernah ganti menimbulkan penyakit kulit karena serangan kutu baju ( Tuma ). Tidak pernah pakai alas kaki ( Kaki telanjang ).
  • Bertugas di Front cukup lama tanpa giliran antara 30 s/d 60 hari terus menerus, pasukan kurang tidur, tidak pernah ada profilaksis.

          Obat-obatan yang sangat terbatas, apabila ada obat dalam upaya memberantas malaria, disediakan bubuk kulit kina yang dibuat butiran-butiran kemudian untuk diminum oleh yang sakit atau juga pasukan yang sehat supaya tidak pernah terserang wabah malaria.

          Guna menambah kalori dan mengganjal perut untuk tidak lapar karena nasi ompreng tidak kunjung datang dikirim dari garis belakang, anggota DKT. Lapangan di TON. Garis depan menganjurkan untuk mencari jamur lember, jamur kayu yang banyak terdapat di hutan itu, humbut pohon paku, buah zursak yang masih muda kemudian direbus untuk di makan sebagai menu tambahan.

          Peralatan kesehatan sangat darurat, pasien yang sakit perlu di evakuasi dari front depan ke Rumah Sakit terdekat, hanya bisa di gotong diatas tangga / taraje yang bisa dipinjam dari rakyat (Tandu hampir-hampir tidak dimiliki pasukan). Tidak ada ambulance, tidak ada kereta jenazah, yang ada gerobak ditarik kuda ( Pedati ) untuk mengangkut yang sakit atau jenazah ke induk Pasukan tidak jarang diangkut dengan pedati ini.

           Peralatan kesehatan, misalnya spalk untuk yang patah tulang tidak jarang dibuat dari dari belahan bambu, sedang verband banyak digunakan lapisan gedebog pisang yang dikeringkan kemudian di sterilkan. Gasper band bekas banyak digunakan lagi melalui sterilisasi, kain kafan bungkus jenajah sering dipakai sarung yang dipakai oleh jenazah itu sendiri, jika ada persediaan bisa dengan kain bagor yang di tenun dari benang serat nanas.

 Dendenkesyah Letkol Ckm Dr. Gunawan Irianto, MARS meninjau keliling Monumen Kesad bersama para Perwira

           Kiprah DKT.TON.KES di Yon.IV. pada perang kemerdekaan ke-1 / agresi Belanda yang pertama tanggal 21 juli 1947 yaitu melayani dua kesatuan pasukan Gerilya II dan Gerilya III di seluruh Wilayah Kuningan. Pasuka gerilya II yang berasal dari YON INF IV di bawah pimpinan Mayor U. Rukmana, berkedudukan di wilayah Kuningan Timur termasuk bagian Utara dan Bagian Selatannya. Adapun pasukan Gerilya III di pimpin Kapten Umar Wirahadikusuma berasal dari YON INF. I/XI/V/Slw menguasai Wilayah Kuningan Barat, Majalengka Selatan dan Cirebon Selatan bagian Barat.

          TON. Kesehatan membagi dua tugasnya, salah satunya masih dipimpin oleh Kapten Arim dan untuk Daerah Gerilya III di pimpin oleh Letnan Saleh. Pelayanan kesehatan ditujukan terutama kepada pasukan namun juga pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat di kantong kantong Gerilya. Kebutuhan transportasi dan evakuasi para penderita khususnya korban pertempurandan jenazah melalui pengerahan tenaga rakyat dan tukang gotong / pikul. Kebutuhan tenaga dokter dan para medis sementara dengan mobilisasi dari pengungsi yang ada disamping datangnya Dokter-dokter DKT. Dari Resiman, Brigade dan juga dari Divisi. (Dokter Tarekat, dr. Sutopo, dr. Yuwono dll.)

          Tempat perawatan orang sakit dan rumah sakit darurat, diadakan atas persetujuan Komandan pasukan sesuai keperluan, terutama di tempat yang kemungkinan tidak bisa di datangi pasukan Belanda. Salah satu yang cukup potensial saat itu adalah Balai Pengobatan dan Rumah rawat inap yang diadakan oleh Bapak H. Sabit di desa Manis Lor Jalaksana Kuningan. Balai pengobatan ini benar-benar sebagai Rumah Sakit darurat yang bisa digunakan untuk pengobatan dan perawatan pasukan gerilya, Balai Pengobatan ini sebagai kebanggaan prajurit selama itu, mengingat balai Pengobatan ini tidak dicurigai Pasukan Belanda, padahal tepat berada di pelupuk mata Pasukan Belanda di jalan raya Kuningan Cirebon KM 14 dari Kuningan.

          Balai pengobatan ini bisa berfungsi sampai dan selama pasukan gerilya hijrah ke daerah R I dan perang Kemerdekaan ke-2, tanpa diketahui dan di curigai pasukan belanda. Untuk penghargaan kepada saudara H. Sabit telah diberikan piagam dan tanda-tanda jasa dan pemberian pangkat titular Letnan dua TNI-AD.

           Evakuasi pemerintah R.I Tingkat kabupaten dipimpin Bupati Moch Noer, Kantor Karesidenan dipimpin Residen Hamdani, ke wilayah Kecamatan Ciwaru. Untuk markas YONINF.I/XI/V/Slw, YONINF.IV/IV/XI/V/Slw masing-masing ke wilayah Kecamatan Ciniru dan Markas Brigade V. juga ke wilayah yang sama. YON.INF I dipimpin Kapten Umar Wirahadi Kusumah menjadi Pasukan Geriya III berkedudukan di desa Sagarahiang wilayah Kec Kadugede, YONINF IV dipimpin Mayor U Rukmana menjadi Pasukan Gerilya II berkedudukan di Desa Sindang jawa seterusnya pindah ke desa Cikahuripan Parakan wilayah kecamatan Lebakwangi. Untuk pimpinan DKT. Pasukan gerilya II Kapten Arim, dan Pimpinan DKT. Pasukan Gerilya III oleh Letnan Saleh dengan beberapa orang Tamtama kesehatan lapangannya.

           Keberangkatan hijrah ke daerah R.I di Jawa Tengah pada tanggal 17 Desember 1947 sebagai konsekwensi disiplin Tentara, dimana Pasukan Gerilya II dan III meninggalkan daerah kantong-kantong gerilya, yang juga di ikuti kesatuan pendukungnya(TONLogistik,TON.Peralatan,TONKesehatan dll) dilaksanakan menurut sebagaimana mestinya sekalipun dirasakan sangat berat mengingat jerih payah membuat dan membina kantong-kantong gerilya dengan segala potensinya terpaksa harus ditinggalkan di daerah R.I ( Jawa Tengah dan Jawa Timur ). Pasukan Gerilya II bermarkas di Tasikmadu Solo, kemudian menjadi YONINF I/XIIA/Slw dipimpin Mayor U Rukmana dengan 4 KI INF-nya dan 1 KI Markas. Pasukan gerilya III bermarkas di Colomadu Panhan Solo, kemudian menjadi YONINF II/XIIA/Slw dipimpin Mayor Umar Wirahadikusumah dengan 4 KI.INF-nya dan 1 KI Markas. Adapun DKT YON INF.I. di pimpin Letnan Saleh sedangkan DKT.YON.INF.II di pimpin Sersan Mayor Soerdja al.Jigud.

          Markas Resimen XIIA/Slw berada di Kota Solo, dipimpin oleh Letkol Sodikin, adapun kepala DKT. Resimen XIIA adalah dr. Mayor Soeprapto. Akibat Ra dan Re yang dijalankan oleh Pemerintah R.I pangkat tentara waktu itu diturunkan satu tingkat lebih rendah dari pangkat yang disandangnya saat itu. Selama di Jawa Tengah satuan-satuan kesehatan aktif membuka poliklinik dan merawat orang sakit di RST Magelang, Solo dan sekitarnya. Selain itu satuan kesehatan juga ikut aktif dalam penumpasan pemberontakan PKI Muso di Madiun.

          Phase konsolidasi termasuk didalamnya Kesehatan YON.INF, dan KI.KI nya tidak dapat disebut berhasil, kurangnya peralatan kesehatan lapangan, alat kedokteran, peningkatan gizi pasukan, kaporlap dan perlengkapan pasukan tidak dapat dipenuhi sesuai harapan. Pakaian seragam pasukan hanya bisa dilengkapi satu setel kain tenun bagor ( Jalinan tenun benang kapuk randu dan benang haramay ) ransel dibuat dari kain karung goni, sepatu karet latek mentah, ( ini khusus di berikan kepada pasukan YON.INF.I/XIIA/Slw. Yang akan segera dikembalikan ke Jawa Barat wilayah Kuningan ). Perintah kembali ke Jawa barat kepada pasukan Yon Inf I/XIIA/Slw disambut dengan suka cita oleh pasukan yang bersangkutan, minimal segera bertemu dengan sanak keluarga handai tolan yang waktu ditinggalkan di daerah kantong - kantong gerilya.

          Awal bulan Agustrus 1948 Yon INF I/XIIA/Slw seutuhnya diberangkatkan dari Satsiun Balapan dengan kereta api sampai Purworejo, selanjutnya dengan kendaraan diangkut ke Banjarnegara. Dari Banjarnegara sebagai titik sart Long March menuju Jawa Barat wilayah Kuningan dimulai, tiba di Kuningan pada pertengahan September tahun 1948. Sepanjang Rute Long Marcs terdapat beberapa pertempuran dengan pasukan belanda tidak dapat dihindarkan, cegatan-cegatan Pasukan Belanda dan Bombardemen serta berondongan pesawat belanda.Identitas nama kesatuan sengaja dihilangkan dalam mengelabuhii KTN ( Komisi Tiga Negara ).

          Setelah tiba di Kuningan nama kesatuan menjadi KGRM (Kesatuan Gerakan Rakyat Merdeka ), sementara di Kuningan sendiri telah ada Kesatuan Gerilya yang menamakan dirinya KPRM (Kesatuan Perjuangan Rakyat Murba ) dipimpin oleh Imam Hidayat. Kesepakatan kerja sama KGRM dan KPRM dilaksanakan melalui pembangunan tugas operasional, antara lain bahwa KGRM bertugas tempur sedangkan KPRM ke teritorial. Kerjasama ini berlaku sampai dengan lahirnya S.K.Panglima Komando Jawa bahwa YON.INF I/XIIASlw di berinama KMD-I (Komando Militer Daerah I ) dan untuk kegiatan – kegiatan Territorial di bentuk SUB.Territorial I ( PST I ) masing – masing sebagai Komandan KMD-I Mayor U.Rukman dan Komandan PST –I Mayor Maksudi.

         DKT.KMD-I di bawah pimpinan Mayor Dr.Seto M dan perwira kesehatan lainnya, meneruskan kedudukan bekas Markas kesehatan yang lama di desa Tundagan, adapun TON.TON.kesehatannya berada di tiap – tiap lokasi pasukan tempur, baik di wilayah Kuningan sendiri sebagai markas KMD, maupun di tiap – tiap wilayah Kabupaten lainnya seperti Indramayu, Majalengka, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Pimpinan Tempur dan Pimpinan Territorial pada masa itu di percayakan kepada Kapten/Mayor Sentot AS.DAN.KI.INF.(1) yang selanjutnya menjadi YON INF.I. KMD-I Kapten Machmud Fascha DAN.KI.INF(2) yang selanjutnya menjadi YON.INF.(3) YON.INF.I KMD-I kemudian menjadi DAN.YON.INF.(2) KMD-I satu KI.INF.(4) adalah KI.INF.(4) Pimpinan Kapten Abd.Sukur di Majalengka yang pasukannya di jadikan satu dengan KI.INF.(1) Menjadi YON.INF.I.KMD-I.

         Hasil Keputusan perundingan Roem/Royen menelorkan genjatan senjata antara pasukan TNI dan pasukan Belanda. Menghadapi kegiatan ini,Staf KMD-I dan PST-I berikut Kesatuan-kesatuan Bantuan terutama DKT dengan pasukan kesehatannya bersiap-siap memindahkan Markasnya ke desa-desa di pinggiran kota Kuningan dan sekitarnya. Sesuai dengan perkembangan taktis, markas tersebut sering berpindah-pindah tempat. Pada bulan Agustus 1949 DKT mengungsi kedesa Tundagan (Rumah Letda Sajud ). Bulan Oktober 1949, Staf DKT pindah ke Desa Bayuning, Kecamatan Kadu Gede Kuningan, Poliklinik dan Staf DKT menempati rumah bapak Ngabihi. Bulan Nopember 1949, Staf DKT I pindah lagi ke desa Cigugur, Poliklinik dan perawatan menempati balai desa Cigugur rumah dokter menempati rumah bapak Suwita Atmadja.

         Akibat provokasi mata – mata pasukan Belanda, bahwa Markas KMD-I dan Staf PST-I di Cigugur dan sekitarnya akan di serbu pasukan Belanda karena dianggap telah melanggar demarkasi berarti melenggar genjatan senjata. Termakan provokasi ini, secara serentak Markas KMD-I dan Staf PST-I di pindahkan ke Bayuning dan ke Cipondok dan Windujanten Kecamatan Kadugede.

          Seiring dengan pelaksanan pengakuan kedaulatan Negara RI hasil Konferensi Meja Bundar di Denhaag negri Belanda, ahirnya markas KMD-I di pindahkan ke kota Cirebon berikut kesatuan – kesatuan pendukungnya antara lain Djawatan Kesehatan Tentara yang menempati bekas Hotel Cirebon di jalan Samadikun sekarang. Markas KMD-I di Hotel Kanton Jalan Karanggetas, adapun staf PST-1 sementara bermarkas di Kuningan. Akhirnya Staf PST-1 dipindahkan juga ke Cirebon yang menempati tempat yang sama di Hotel Cirebon.

 Foto di depan rumah yang pernah dijadikan perawatan prajurit di Cigugur bersama dengan anak pelaku sejarah.

         Di Cirebon DKT menempati rumah di jalan Kesambi 79, mulai Januari 1950, rumah ini dipakai sebagai Poliklinik, Gudang obat, rumah dokter dan asrama anggota. Atas bantuan kepala RSU Gunung Jati di Kesambi, DKT mendapat satu ruangan / bangsal untuk perawatan tentara yaitu Bangzal A dengan kapasitas 12 tempat tidur. Pada saat itu DKT dipimpin oleh Kapten dr Seto Martohusodo. Pada bulan Maret 1950, Kapten dr Seto Martohusodo digantikan oleh Mayor dr. Chaidir Sutan Rusdi. Untuk rumah dokter dan kantor mendapat tambahan rumah di jalan Kesambi no 65, rumah ini pada bulan Mei 1950 di tukar dengan rumah di Pulasaren 46, yang ditempati khusus untuk rumah dokter sedangkan kantor dan poliklinik pindah ke Cangkol.

          Pada bulan Juli 1951 nama DKT KMD I di rubah menjadi Djawatan Kesehatan Tentara Perwira Sub Teritorium I, Di singkat DKT-PST I. DKT-PST I membawahi sub DKT-PST I di Purwakarta serta Ton Kes Yon. Akibat perubahan nama PST I menjadi Resimen Infantri-9 / Teritorium III, maka DKT – PST I juga berubah menjadi DKT Res Inf 9 – Teritorium III. Pada tahun 1955 DKT Res Inf 9 membuka klinik bersalin di jalan Kesambi 97. Pada tahun 1955 nama DKT-Res Inf 9 dirubah menjadi Djawatan Kesehatan Angkatan Darat Res Inf 9 / Terr III Siliuwangi ( DKAD-Res Inf 9 / Ter III Siliwangi ).

          Sejak tahun 1955 Kakes Res Inf 9, Kolonel dr Chaidir, telah merencanakan berdirinya RST Ciremai. Tetapi pembangunan RS Ciremai baru di mulai 1961 di tempat yang dahulunya hutan alang-alang dan ada Pabrik Aci, pembangunan selesai tahun 1963 dan peresmian RS Ciremai dilakukan oleh Danrem 063/SGD, Letkol Aj Witono pada tanggal 20 Mei 1963. Dengan berdirinya RS Tentara Ciremai maka seluruh kegiatan pelayanan kesehatan dijadikan satu di Ciremai, mulai dari rawat jalan, rawat inap, kamar bersalin, laboratorium, radiologi, farmasi, gudang obat dan lain-lain.

          Tanggal 1 Januari 1965 Nama Kesrem 063/SGD diganti menjadi Denkesrem 063/SGD. Tanggal 1 Januari 1968 dimulai pemisahan Staf Denkes dengan Rumah Sakit Ciremai. Pada tahun 1985, Denkesrem 063/Sgj dirubah manjadi Denkesyah 03.04.03 Cirebon sampai sekarang. Waktu terus berjalan, para pejabat silih berganti datang dan pergi. Saat ini Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah 03.04.03 Cirebon dijabat oleh Letkol Ckm Dr. Gunawan Irianto, MARS, sedangkan Karumkit Tingkat III Ciremai dijabat oleh Letkol Ckm Dr. Tjatur Winarsanto, Sp.PD.

 

 

 

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG SALAM UNTUK KELUARGA