Kolesterol tinggi (“hypercholesterol”)

Kolesterol tinggi (“hypercholesterol”) sebagai salah satu

Faktor Resiko Penyakit KARDIOVASKULER

Letnan satu Ckm (K) dr.Erna Parmawati

Bag.Bankes & Kessus Subditbindukkes Ditkesad

    Faktor risiko untuk mencegah terjadinya serangan jantung dapat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu faktor resiko yang dapat dikurangi,diperbaiki atau dimodifikasi dan faktor yang bersifat alami atau tidak dapat dicegah. Kolesterol tinggi dalam darah (hypercholesterolemia) termasuk salah satu faktor resiko yang dapat dikurangi atau diperbaiki/dimodifikasi

   Penyakit kardiovaskuler disebabkan oleh terjadinya hambatan aliran darah pada arteri koroner yang mensuplai darah ke otot-otot jantung. Faktor resiko (faktor yang meningkatkan peluang untuk terkena suatu penyakit tertentu) untuk mencegah terjadinya serangan jantung dapat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu faktor resiko yang dapat dikurangi,diperbaiki atau dimodifikasi dan faktor yang bersifat alami atau tidak dapat dicegah.

    Kolesterol tinggi dalam darah (hypercholesterolemia) termasuk salah satu faktor resiko yang dapat dikurangi atau diperbaiki/dimodifikasi (faktor resiko lainnya adalah tekanan darah tinggi, merokok, stress, obesitas, kurangnya aktivitas fisik dll, dimana faktor resiko tersebut saling terkait satu dengan yang lain).

   Kolesterol sebenarnya adalah ‘substansi lilin‘ yang tersedia sebagai “pembentuk bangunan” dalam sel membran. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh untuk bermacam-macam fungsi antara lain untuk memproduksi beberapa hormon, membuat asam empedu, dan fungsi lainnya. Diperkirakan 2/3 dari seluruh kolesterol yang ada dalam tubuh kita diproduksi oleh Hati. Sisanya berasal dari makanan yang diserap oleh sistim pencernaan. Sejauh pemasukan ini seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka tidak akan berpengaruh negatif. Tetapi kebanyakan dari kita memasukkan kolesterol lebih dari apa yang diperlukan melalui makanan yang mengandung lemak yang kaya akan kolesterol dalam jumlah yang berlebihan.

   Kolesterol yang bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di dalam pembuluh darah arteri dapat menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang dikenal sebagai aterosklerosis dan jika sampai mengganggu suplai darah ke otot-otot jantung akan menimbulkan keluhan atau gejala-gejala penyakit jantung.

    Kolesterol dibawa melalui darah oleh lipoprotein. Ada 5 jenis lipoprotein utama yaitu kilomikron (chylomicron), VLDL-kolesterol, IDL-kolesterol, LDL-kolesterol dan HDL-kolesterol. LDL-kolesterol sering dinamakan ‘kolesterol jahat’ karena dapat mengendap di dinding arteri menjadi padat yang terdiri dari campuran kalsium,zat pembeku dan lainnya yang disebut plak (plaque).

     HDL-kolesetrol dianggap sebagai senyawa yang memiliki kemampuan menjauhkan (membuang) kelebihan kolesterol dari pembuluh darah arteri dan karenanya sering disebut sebagai ‘kolesterol baik’.

    Dr J Stamler dari Chicago USA menyebutkan bahwa menjaga kadar kolesterol <200 mg/dl adalah cukup baik, tetapi hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa seringkali penyakit jantung koroner mulai muncul pada kadar 160 mg/dl dan pada 180 mg/dl dan meningkat drastis dengan kadar diatas 200 mg/dl. Perlu diperhatikan juga faktor risiko lainnya seperti tekanan darah tinggi, merokok (salah satu penelitian menyebutkan bahwa rokok dapat menurunkan kadar HDL-kolesterol atau kolesterol baik dalam aliran darah) dll.

     Angka indeks perbandingan (rasio) total kolesterol terhadap HDL dapat merupakan petunjuk yang berguna untuk menggambarkan risiko penyakit jantung koroner. Idealnya rasio tersebut maksimal 4,5. Adapun tingkat HDL dipertahankan diatas 40 mg/dl. Jadi meskipun kadar total kolesterol berada pada tingkat yang diinginkan tetapi bila rasio lebih dari 4,5, maka risiko terjadinya penyakit jantung koroner dianggap masih tinggi.

Usaha - usaha untuk mengatasi resiko tersebut, a.l :

a. Diet

Identifikasi jenis makanan yang kaya akan kandungan kolesterol, kemudian kurangi konsumsinya (diet) dengan membatasi kandungan lemak tidak melebihi 30% dari total kalori dalam diet, membatasi masukan kolesterol maksimal 300 mg/dl perhari dll.

b. Mengkonsumsi serat yang larut.

Ada beberapa jenis bahan makan yang mempunyai khasiat menarik kolesterol dari dalam pencernaan dan dikeluarkan bersama ampas/sisa makanan, misalnya jenis yang mengandung serat yang larut (soluble fibre). Dengan demikian kolesterol yang diikat oleh soluble fibre tersebut tidak sampai ke dalam darah, sehingga tidak menambah kadar kolesterol dalam darah.

c. Olahraga rutin dan teratur.

Olahraga dapat mengurangi beberapa faktor risiko terhadap penyakit jantung koroner termasuk hipertensi, kolesterol tinggi (hypercholesterolemia), diabetes mellitus dan obesitas.Disamping itu olahraga yang teratur dapat juga mengubah faktor-faktor protektif kardio, misalnya peredaran darah jantung yang membaik dan meningkatkan kadar HDL-kolesterol

d. Obat-obatan.

Pemakaian obat adalah usaha terakhir setelah diet dan olahraga tidak dapat mencapai tujuannya. Tentu saja efek obat tidak hanya positif tetapi juga mempunyai efek samping negatif yang perlu dipertimbangkan. Dalam memberikan pengobatan kita harus selalu memikirkan keuntungan yang berarti dibandingkan dengan kemungkinan timbulnya efek samping negatif. Dengan uraian diatas kita dapat merasakan betapa pentingnya cara hidup sehat mulai dilaksanakan. Ingat “mencegah jauh lebih baik dibandingkan dengan mengobati”.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG SALAM UNTUK KELUARGA