Kiprah Prajurit
KIPRAH PRAJURIT KESEHATAN SATGAS GARUDA XX-E
DALAM PERGAULAN INTERNASIONAL DI DAERAH MISI PBB KONGO
Oleh:
Mayor CKM Dr. Purwo Setyanto, Sp. B
Komandan Tim Kesehatan Satgas Garuda XX-E Kongo 2007
Selama 60 tahun ini telah digelar 63 misi pemelihara perdamaian PBB di seluruh dunia. Pada tahun 2008, ada 20 misi pemelihara perdamaian PBB, 11 misi digelar di Benua Afrika seperti Kongo, Sudan dan Liberia, 5 misi di Asia termasuk di Timor Leste dan Lebanon, 3 misi PBB di Eropa dan 1 misi PBB di Amerika Tengah yaitu Haiti. Saat ini jumlah personil militer dan sipil yang terlibat dalam berbagai misi PBB berjumlah lebih dari 100.000 personil tersebar di seluruh dunia.
Misi PBB di Republik Demikratik Kongo (MONUC) digelar sejak 30 November 1999 sampai sekarang. Kekuatan personil PBB berdasarkan data pada 31 Juli 2008 sebanyak 18.388 personil militer yang terdiri dari 16.669 pasukan Kontingen dan 677 Pengamat Militer (Military Observer), 1,042 Polisi Sipil PBB, 926 Staf Internasional PBB, 2.120 Staf Lokal PBB dan 504 Staf Sukarela PBB (Volunteer). Sebanyak 50 negara mengirimkan pasukan militer baik sebagai Kontingen maupun Pengamat Militer. Indonesia adalah salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam mengirimkan personil militer baik sebagai Kontingen maupun Pengamat Militer.
Satuan Tugas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-E menjalankan misi pemelihara perdamaian PBB di Republik Demokrasi Kongo (MONUC) selama satu tahun sejak 5 Oktober 2007 dengan kekuatan 175 personil . Dislokasi pasukan ada di 3 (tiga) kota yaitu kota Beni dibawah kendali Brigade North Kivu dan kota Bunia dan Dungu dibawah kendali Brigade Ituri. Dalam melaksanakan tugasnya, Satgas Garuda XX-E selalu berinteraksi dan bekerja sama dengan seluruh Komponen dalam PBB baik staf sipil dan militer.
Di kota Beni pasukan tetangga Indonesia yaitu Batalyon Infanteri Afrika Selatan dan Batalyon Infanteri India. Di kota Bunia terdapat Markas Komando Brigada Ituri, pasukan tetangga kita lebih banyak lagi antara lain Pasukan Khusus Guatemala, Kompi Zeni Nepal, Batalyon Infanteri dari Nepal, Banglades, Pakistan dan Maroko serta Angkatan Udara Banglades. Sedangkan di kota Dungu, pasukan tetangga kita yaitu 1 Kompi Batalyon Infanteri Maroko dan Kompi Zeni Uruguay.
Sebagai sesama pasukan pemelihara perdamaian PBB diperlukan saling menghormati dan kerja sama guna keberhasilan pelaksanaan misi PBB di Kongo. Tim Kesehatan sebagai salah satu komponen Satgas Garuda XX-E berupaya lebih meningkatkan kerjasama dan saling tukar pengetahuan dan informasi khususnya di bidang kesehatan dengan sesama Tim Kesehatan Kontingen Negara tetangga, guna meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi terhadap penyakit – penyakit yang banyak berjangkit di Kongo, serta guna mempererat hubungan persahabatan dan saling pengertian antara Indonesia dan Kontingen Negara lain.
Tim Kesehatan Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan secara regional yang pesertanya dari negara tetangga, bekerja sama dengan Kesehatan Pemerintah Kota dan Kesehatan Tentara Nasional Kongo (FARDC) serta kegiatan Internasional dimana pesertanya dari seluruh Kontingen yang ada di Kongo.
A. Kerja sama dengan Kesehatan Negara tetangga (regional) :
1). Latihan bersama Kesehatan Indonesia - Afrika Selatan Latihan bersama antar tim kesehatan Indonesia dan Afrika Selatan merupakan upaya dalam rangka menjalin hubungan kerja sama antar kedua kontingen juga dapat menambah pengetahuan antar kontingen khususnya di bidang kesehatan, sekaligus dapat mengasah ketrampilan yang sudah dimiliki oleh masing-masing kontingen, serta guna mempererat hubungan persahabatan diantara Indonesia dan Afrika Selatan.
Latihan bersama ini dilakukan di Markas Komando Satgas Garuda XX-E Madiba Camp di Beni, pada tangal 16 November 2008 yang diikuti 20 peserta dari kedua kontingen, masing-masing Satgas Garuda XX-E (Indonesia ) 16 personel dan 4 personel dari Satgas Batalyon Infanteri Afrika Selatan.
Materi latihan meliputi cara mengatasi pendarahan, pertolongan patah tulang baik patah tulang terbuka maupun tertutup, serta evakuasi dari tempat kejadian peristiwa (TKP) hingga menuju Level – 1 Hospital dengan methode Ceramah dan Praktek, yang dilakukan secara bergantian oleh masing-masing Komandan Tim (Dantim) kesehatan, dimana tim kesehatan Satgas Garuda XX-E oleh Mayor Ckm dr. Purwo Setyanto, Sp.B sedangkan dari Satgas Batalyon Infanteri Afrika Selatan oleh Kapten Rose Mahlo.
2). ”Medical Exchange Information”. Tiga kontingen (India, Afrika Selatan dan Indonesia) pada tanggal 21 Desember 2007 bertempat di kontingen Indonesia (Markas Komando Satgas Garuda XX-E) di Beni, melakukan pertemuan ilmiah ”Medical Exchange Information” terhadap 3 (tiga) penyakit yang sangat menakutkan bagi kehidupan manusia di Afrika khususnya di Republik Demokrasi Kongo, yakni penyakit “Ebola, Malaria dan HIV/AIDS”.
Pelaksanaan pertemuan “Medical Exchange Information” yang baru pertama kali dilakukan ini juga merupakan gagasan dari Tim Kesehatan Indonesia, ini dilaksanakan dengan saling tukar menukar informasi tentang jenis penyakit yang paling di takuti di Republik Demokrasi Kongo.
Pertemuan ini sangat perlu dilakukan khususnya bagi kontingen yang sedang melaksanakan tugas operasi misi pemeliharaan perdamaian PBB (MONUC), sebagai upaya tindakan preventif. Mengingat ketiga penyakit ini (Ebola, Malaria dan HIV/AIDS) merupakan penyebab tingginya angka pesakitan dan kematian di negara Republik Demokrasi Kongo yang sedang dilanda perang saudara.
3). Pasukan PBB di Kongo Siaga-1 hadapi serangan Ebola. Regional Medical Officer untuk Misi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Kongo (MONUC) Dr.Taiwo Roufu (Nigeria) pada tanggal 3 Januari 2008, menginstruksikan kepada seluruh staf serta pasukan pemelihara perdamaian PBB yang bertugas di Republik Demokrasi Kongo, untuk Siaga-1 terhadap kemungkinan mewabahnya penyakit “Ebola”, dengan melakukan Medical Conference di Beni.
Pertemuan ini dihadiri sekitar 100 peserta yang terdiri dari Staf PBB baik Lokal maupun Internasional serta utusan Komandan Pasukan PBB yang berada di Beni terutama para tenaga medis termasuk Tim Kesehatan dari kontingen Indonesia. Pertemuan ini dilaksanakan serentak di seluruh jajaran MONUC wilayah Divisi Timur yang meliputi 4 (empat) Brigade yaitu Ituri, North Kivu, South Kivu dan Katanga.
4). Kepedulian kontingen PBB terhadap masyarakat lokal. Bhakti sosial pengobatan massal oleh Tiga Negara (Indonesia, India dan Afrika Selatan) serta Rumah Sakit Umum Pemerintah Kota Beni dilaksanakan di Stadion Beni pada tanggal 26 Januari 2008.Kurang lebih 500 orang yang meliputi mayarakat umum, pegawai instansi sipil, Polisi serta Militer tampak antusias memanfaatkan kesempatan pengobatan gratis ini.
Kegiatan bhakti sosial bersama diatara Kontingen tersebut makin mempererat kerja sama yang sudah terjalin dengan baik. Khususnya di bidang kesehatan, ketiga Tim Kesehatan Kontingen PBB ini telah banyak bekerja sama bahu membahu dalam menghadapi gempuran wabah penyakit yang menyerang personil pemelihara perdamaian yang bertugas di Kongo ini.
5). BENI AIRPORT EMERGENCY RESPONSE PLAN. Sampai saat ini transportasi udara merupakan tulang punggung transportasi personil serta logistik PBB di Kongo. Hal ini akibat karena sangat minimnya infra struktur dan jembatan terutama yang menghubungkan antar kota di Kongo. Selama tahun 2007 sedikitnya terjadi 8 kecelakaan pesawat PBB dalam menjalankan tugasnya.
Mengingat pentingnya hal tersebut di atas maka Departement of Peace Keeping Operations (DPKO) di New York secara langsung memerintahkan peningkatan keselamatan penerbangan dan langkah – langkah antisipasi terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Maka pada tanggal 9 Juli 2008 diadakan pelatihan Emergency Response Plan di Bandara Mavivi – Beni.
The Beni Airport Emergency Response Plan diselenggarakan dalam hubungannya dengan MONUC ACCIDENT RESPONSE PLAN untuk membantu personil dalam misi bertindak secara cepat dan terkoordinir jika sewaktu waktu terjadi kecelakaan yang melibatkan pesawat terbang PBB. Sangatlah penting bahwa semua personil yang terlibat memahami semua rencana dan mengetahui tugas serta tanggung jawab masing-masing.
Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Kesehatan Indonesia dibagi menjadi 2 (dua) regu yaitu satu regu masuk ke dalam badan helikopter dan satu regu yang merupakan regu tandu bersiap di luar dan masuk ke pesawat setelah ada komando dari Dantimkes. Tugas regu yang masuk pesawat adalah melakukan Triage terhadap para korban yang selamat berdasarkan kegawatannya, memberikan bantuan Live and Limb Saving serta memberi label Merah, Kuning, Hijau dan Hitam.
6). Kunjungan ke sesama Level -1 Hospital Dalam rangka membina hubungan baik antar sesama Tim Kesehatan maka Tim Kesehatan Indonesia mengadakan kunjungan ke Tim Kesehatan Kontingen lain yang merupakan pasukan tetangga Indonesia. Di Kota Beni, Tim Kesehatan mengadakan kunjungan ke Level – 1 Hospital Republik Afrika Selatan dan India. Di kota Bunia kunjungan ke Kontingen Maroko, Nepal, Banglades dan Guatemala, sedangkan di kota Dungu kunjungan ke Uruguay dan Maroko serta di sela – sela mengikuti Military Medical Meeting di Kinshasa, kami sempatkan mengunjungi Level – 1 Hospital Ghana Batalyon.

Beberpa hal yang kami peroleh dalam kunjungan tersebut adalah :
a) Kesepakat untuk lebih mempererat hubungan yang sudah terjalin serta akan lebih meningkatakan kerjasama dalam hal pengetahuan teknis medis juga pengetahuan kesehatan lapangan.
b) Seluruh fasilitas Level-1 Hospital berada dalam ruangan Hard Wall yang menyerupai kontainer, istilah yang dipakai disini „CORIMEC“ lengkap dengan pengatur suhu / Air Conditioning dingin dan panas yang memang sesuai dengan iklim di Kongo yang perbedaan suhu antara panas dan dingin sangat ektrim.
c) Fasilitas yang tersedia sesuai dengan standar Level-1 Hospital PBB antara lain, fasilitas rawat jalan dan rawat inap, ruang konsultasi dan pemeriksaan, ruang perkantoran, farmasi dan laboratorium.
d) Dokter dan beberapa personil kontingen yang lain adalah personil sipil yang diminta bantuan untuk Misi pemelihara perdamaian PBB
e) Masa penugasan personil kesehatan di Kongo tidak sama pada semua Kontingen dan bahkan sesama Kontingen. Masa penugasan bervariasi antara 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun.
7). Kunjungan ke Level -2 Hospital Maroko Level-2 Hospital of Marocco merupakan tempat rujukan dari Level-1 Hospital yang ada pada setiap Kontingen termasuk Indonesia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang rumah sakit ini maka Tim Kesehatan Indonesia berkunjung ke Level-2 Hospital of Marocco pada hari Selasa 12 Pebruari 2008.
Keberadaan Level-2 Hospital ini merupakan bagian dari sistem rujukan dalam dukungan kesehatan bagi seluruh personil pemelihara perdamaian PBB yang bertugas dalam misi PBB di Kongo (MONUC). Pada kesempatan kunjungan ini, kami langsung diterima oleh Kepala Level-2 Hospital of Morocco Letkol Dr Syayid, Surgeon (Spes. Bedah). Rumah Sakit ini merupakan level pelayanan lanjutan dari Level-1 Hospital yang ada di masing-masing kontingen dan merupakan level pelayanan pertama dimana terdapat ahli bedah dan pelayanan bedah. Misi pelayanan Level Two Hospital adalah memberikan pelayanan kesehatan lini kedua, resusitasi dan stabilisasi gawat darurat, penanganan bedah untuk menyelamatkan jiwa dan anggota badan, pelayanan gigi dasar dan evakuasi korban ke level berikutnya.
Personil rumah sakit ini terdiri dari 11 spesialis yang meliputi bedah umum, bedah ortopedi, bedah gigi dan mulut, penyakit dalam, patologi klinik, kesehatan masyarakat, biologi, rehabilitasi medik, dan radiologi. Serta didukung dengan 2 dokter umum, 24 tenaga keperawatan, penata anastesi, radiologi, laborat / analis medis, fisioterapi serta administrasi. Juga tenaga elektro medis serta petugas khusus yang menangani perbekalan, air dan listrik. Dengan 20 tempat tidur perawatan umum dan 2 tempat tidur perawatan intensif.
8). Kunjungan Balasan Kesehatan Republik Afrika Selatan. Persahabatan itu indah. Pemandangan seperti itulah yang tercermin dari kunjungan balasan Tim Kesehatan Republik Afrika Selatan pada hari Senin tanggal 17 Maret 2008. Karena terbatasnya ruangan di Rumkitlap maka penerimaan tamu Afrika Selatan ini dilakukan di ruang Internal Duty Base Camp Indonesia.

Dalam perbincangan yang akrab dan lancar ini, Tim Kesehatan Republik Afrika Selatan menyampaikan bahwa sangat terkesan dengan jalinan kerja sama yang telah terbina selama ini diantara kedua Tim Kesehatan. Sebenarnya kunjungan balasan bukanlah budaya mereka, hanya karena terdorong untuk tetap dan terus membina hubungan yang baik inilah maka Tim Kesehatan Republik Afrika Selatan berusaha untuk mengadakan kunjungan ini.
Dalam kunjungan ini, tamu Afrika Selatan juga berkesempatan meninjau Rumkitlap Indonesia. Mereka terkesan dengan kelengkapan, kerapian dan kebersihan alat – alat medis yang dimiliki Indonesia. Mereka juga dengan seksama memperhatikan Rumkitlap yang terbuat dari tenda, kecuali memang terasa lebih panas, tapi faktor kenyamanan dirasa cukup sebagai tempat perawatan di daerah operasi.
Sebagaimana tamu – tamu yang berkunjung ke Rumkitlap Indonesia lainnya, tamu Afrika Selatan ini pun kami bagikan brosur – brosur tentang kebudayaan dan pariwisata Indonesia yang kami peroleh dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Mereka sangat terkesan dengan ragam budaya dan tempat – tempat wisata yang dimiliki Indonesia, dan sangat terkejut dengan masyarakat / suku Papua yang memiliki bentuk tubuh, warna kulit, rambut serta budaya yang nyaris persis sama dengan masyarakat Afrika pada umumnya.
B. Kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Pemerintah dan Kesehatan Tentara Nasional Kongo (FARDC):
1). Kunjungan ke Rumah Sakit Umum Kota Beni & Dungu
Untuk pertama kalinya Tim Kesehatan Satuan Tugas Garuda XX-E mengadakan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Kota Beni pada hari Senin 11 Pebruari 2008 dan ke Rumah Sakit Umum kota Dungu pada tanggal 18 Pebruari. Kunjungan ini pun merupakan kunjungan pertama dari Kontingen pasukan pemelihara perdamaian PBB yang bertugas di Beni dan Dungu sejak tahun 2003. Kunjungan ini merupakan kepedulian Tim Kesehatan pasukan PBB terhadap sarana dan prasarana kesehatan masyarakat setempat.
Dalam kunjungan ini kami diberi kesempatan keliling ke seluruh fasilitas rumah sakit yang diantar langsung oleh Direktur dan pejabat teras Rumah Sakit lainnya. Secara keseluruhan, fasilitas yang ada tampak sarana dan prasarana yang sangat sederhana. Bangunan gedungnya juga sudah tua dan tidak terawat dengan baik, ada beberapa bangunan gedung yang sudah direhabilitasi atas bantuan negara Kanada dan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sumber listrik untuk seluruh rumah sakit berasal dari generator atau genset karena sampai saat ini tidak ada jaringan listrik untuk sebagian besar wilayah Kongo.
Seluruh pelayanan tehnis medis dilakukan oleh Dokter Umum mulai dari rawat jalan, rawat inap termasuk tindakan operasi. Seluruh Dokter Umum disini harus mampu melaksanakan tindakan operasi baik operasi kecil maupun besar, dari tumor jinak, appendektomi, laparotomi,bedah ortopedi juga seksio sesaria.
Hal ini harus dapat dilakukan di RSU karena rumah sakit rujukan di ibu kota Provinsi sangat jauh juga sarana jalan yang sangat tidak memadai. Kalaupun perlu cepat di evakuasi harus menggunakan pesawat terbang yang sangat mahal serta jadwal penebangan yang belum dapat dipastikan terbang setiap harinya.
2) Kunjungan ke Rumah Sakit Tentara Nasional Kongo (FARDC) Kesehatan selalu hadir dimana pun juga. Demikian juga untuk Tentara Nasional Kongo / Forces Armées de la République Démocratique du Congo (FARDC) yang sedang berbenah diri setelah porak poranda akibat perang saudara yang berkepanjangan. Dalam keadaan yang serba terbatas dan kekurangan, Kesehatan FARDC tetap setia mendampingi gerakan pasukan FARDC.
Fasiltas rumah sakit sangat sederhana sekali dengan layanan rawat jalan, apotik dengan obat yang sangat minim, ruang pemeriksaan sekaligus kantor dokter serta 2 (dua) ruang perawatan masing – masing berukuran 3 x 4 m dengan 8 tempat tidur untuk masing – masing Batalyon. Tidak tampak pasien dengan selang dan botol infus karena mereka memang tidak mempunyai cairan infus, infus set dan IV Catheter.
Dari penyampaian perwira kesehatan FARDC kami sangat terharu dengan pengadaan obat bagi mereka. Sampai saat ini Pemerintah Kongo belum mampu menyediakan dana yang memadai untuk kesehatan, untuk itu atas kesadaran seluruh prajurit, akhirnya mereka menyumbang secara sukarela dalam bentuk uang atau barang yang kemudian dijual. Uang hasil sumbangan sukarela para prajurit inilah yang kemudian dibelikan obat dan alat kesehatan di kota terdekat.
Dalam kesempatan perbincangan dengan Dan Yonif 22 dan Yonif 23, beliau menyampaikan sangat terkesan dengan kunjungan Tim Kesehatan Indonesia dan sangat tidak menduga masih ada Kontingen Negara PBB yang peduli keadaan mereka disaat kondisi mereka yang sangat memprihatinkan seperti sekarang ini. Mereka sangat mengharap bantuan pelatihan pengetahuan dan ketrampilan Kesehatan Lapangan (Keslap) bagi personil kesehatan maupun keseluruhan prajurit, juga sangat mengharap bantuan obat dan alat kesehatan untuk mengurangi beban masalah kesehatan bagi prajurit dan keluarga prajurit.
3) Kunjungan Balasan Kesehatan Tentara Nasioanal Kongo (FARDC). Kunjungan balasan dari Tentara Nasioanal Kongo dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2008 merupakan realisasi dari permohonan yang langsung disampaikan oleh Komandan Batalyon Infanteri 23 Letkol Madika Mozala kepada Komandan Tim Kesehatan Indonesia Mayor CKM Dr. Purwo Setyanto, Sp. B.
Dalam kunjungan ini dua perwira Kesehatan FARDC berkesempatan untuk melihat secara langsung sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit Lapangan (Level – 1 Hospital) serta operasional Ambulans. Pada kunjungan ke Rumkitlap, dimulai dengan melihat sarana yang tersedia di Unit Gawat Darurat dimana diperlihatkan Troley yang berisi alat pemeriksaan seperti Stetoskop dan Spignomanometer, Otoskop, General Purpose Set, Glucometer, perawatan luka dan bedah minor juga melihat set bedah yang dipersiapkan untuk kasus emergency seperti set trakheostomi, thoraks drain, vena seksi, kateterisasi dan sistostomi sesuai standar PBB.
Peninjauan dilanjutkan ke fasilitas rawat inap dengan 5 tempat tidur perawatan. Yang menarik perhatian tamu kita ini adalah alat Oxygen Concentrate, Infusion Pump serta Perangkat /Tas Dokter dan perawat. Khusus untuk tas Dokter mereka meminta dibuka dan dijelaskan isi dan kegunaan secara detail.
Perwira FARDC baru pertama kali bisa melihat secara langsung dari dekat seluruh fasilitas dan kemampuan sebuah Ambulance dengan standar PBB. Dibandingkan dengan kondisi Ambulans FARDC jauh dari memadai dan hanya sebagai alat angkut biasa. Sedangkan Ambulans Indonesia diperlengkapi dengan berbagai peralatan khusus untuk keadaan Gawat Darurat sehingga memungkinkan dilakukan pengawasan ketat serta mengambil tindakan gawat darurat selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang sudah dihubungi melalui sarana komunikasi radio yang juga tersedia dalam Ambulans.
4). Pelatihan Kesehatan Lapangan untuk Kesehatan Tentara Nasional Kongo (FARDC). Pertolongan pertama kali di lapangan yang diberikan terhadap korban tempur sangatlah menentukan keberhasilan penanganan selanjutnya. Diperlukan pengetahuan dan ketrampilan kesehatan yang memadai bagi semua prajurit yang terjun dalam pertempuran.
Sehubungan dengan pentingnya Kesehatan Lapangan maka pada hari Rabu tanggal 26 Maret 2008 dilaksanakan Pelatihan Kesehatan Lapangan bagi Kesehatan Tentara Nasional Kongo (FARDC) oleh Tim Kesehatan Satuan Tugas Kontingen Garuda XX-E/MONUC bertempat di Base Camp Indonesia.
Peserta pelatihan terdiri dari personil kesehatan dari Batalyon Infanteri 22 dan 23 FARDC yang masing – masing mengirimkan 3 personil kesehatan yang terdiri para perawat berpangkat Bintara dan Perwira. Pada kunjungan kali ini juga bersamaan dengan kunjungan Komandan Batalyon Infanteri 23 FARDC Letkol Madika Mozala yang langsung diterima oleh Dandatgas Garuda XX-E Letkol CZI T. Yoga Pranoto. Sedangkan dari Indonesia terdiri dari Tim Kesehatan yang dipimpin oleh Mayor CKM Dr. Purwo Setyanto, Sp. B. Materi pelatihan berupa pelajaran teori di kelas serta praktek lapangan.
Pelatihan diawali dengan pelajaran teori bertempat di Ruang Rapat Base Camp Indonesia. Materi yang disampaikan berupa Bantuan Hidup Dasar (BHD), kontrol perdarahan serta penanganan patah tulang. Pelajaran praktek yang kami sampaikan berupa prinsip – prinsip penanganan awal pasien luka, pembebasan dan stabilisasi jalan nafas serta kontrol dan stabilisasi leher, pemeriksaan Air way, Breathing dan Circulation (Prinsip ABC), Pengangkutan Orang Luka (POL) dengan satu, dua dan tiga penolong serta menggunakan tandu, prinsip – prinsip pemasangan bidai serta penanganan korban dengan luka tembak di kaki, perut dan dada.
C. Pertemuan Internasional.
1). Sexual Exploitation and Abuse ( S E A) Focal Points Training of The Trainer Laporan – laporan tentang adanya Sexual Exploitation and Abuse (SEA)/ Eksploitasi dan Pelanggaran Seksual yang dilakukan oleh personil PBB telah menodai reputasi para pemelihara perdamaian di seluruh dunia. Pelanggaran – pelanggaran Eksploitasi dan Pelanggaran Seksual / SEA tidak hanya memberi dampak negatif terhadap kredibilitas Misi PBB tetapi juga berdampak negatif terhadap image kontingen nasional yang bersangkutan. Kekerasan ini juga tetap melekat dalam memori korban, keluarga korban serta masyarakat sekitarnya.
Sekretaris Jendral PBB telah menekankan kebijaksanaan tidak ada toleransi bagi pelanggaran dan kekerasan seksual / Zero Tolerance Policy of Sexual Exploitation and Abuse. Untuk itu maka diadakan Sexual Exploitation and Abuse Focal Points Training of Trainer bagi seluruh kontingen militer yang bertugas di Kongo pada tanggal 4 – 5 Juni di ibu kota Kongo – Kinshasa.
Komandan Satuan Tugas Garuda XX-E Letkol CZI T. Yoga Pranoto memerintahkan Komandan Tim Kesehatan Mayor CKM Dr. Purwo Setyanto, Sp.B sebagai SEA Focal Point kontingen Indonesia dan mewakili kontingen Indonesia dalam Training of Trainer ( Pelatihan bagi Pelatih ) yang juga diikuti oleh perwakilan seluruh kontingen pasukan PBB juga perwakilan Brigade serta Divisi yang ada di Kongo.
Adapun tugas SEA Focal Point sebagai berikut :
a) Menerima pengaduan tentang adanya dugaan kasus pelanggaran SEA dari personil MONUC dan dari masyarakat lokal serta melaporkan sesegera mungkin ke Conduct and Dicipline Unit (CDU).
b) Melakukan upaya-upaya pencegahan pelanggaran SEA dengan bertukar pikiran, penyuluhan dan langkah-langkah praktis di lapangan serta memberikan umpan balik ke CDU.
c) Meningkatkan kesadaran tentang SEA kepada seluruh personil MONUC.
d) Memfasilitasi dan menyelenggarakan pelatihan tentang SEA.
e) Selalu mengikuti perkembangan tentang issue-issue terbaru tentang SEA.
f) Membuat laporan bulanan dan tiga bulanan tentang pelaksanaan pelatihan SEA di kontingen kepada CDU.
2). MONUC Annual Military Medical Meeting 2008 Tujuan dukungan kesehatan bagi personil pemelihara perdamaian PBB adalah menjamin kesehatan dan kesejahteraan seluruh personil dalam operasi pemelihara perdamaian melalui perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, monitoring dan pengawasan pelayanan medis di lapangan yang professional Untuk lebih mengoptimalkan koordinasi seluruh personil dan fasilitas kesehatan Militer yang terlibat dalam misi PBB di Kongo maka dilaksanakan Military Medical Meeting pada tanggal 17 – 18 Juli 2008 di Conference Room Ghana Battalyon Kinshasa.
Military Medical Meeting merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Force Medical Officer (FMO) diikuti oleh utusan dari seluruh fasilitas dan unit kesehatan Militer yang terdiri dari 1 dokter dari masing – masing Level – 1 Hospital yang ada di Kompi dan Batalyon serta dari Aero Medical Evacuation Team (AMET) dari Maroko, Afrika Selatan, Serbia,dan Jordania, 2 dokter dari masing – masing Level -2 Hospital dari Maroko, Cina dan Yordania serta 2 dokter dari Level – 3 Hospital India. Indonesia diwakili oleh Komandan Tim Kesehatan Satgas Garuda XX-E Mayor CKM Dr. Purwo Setyanto, Sp.B.
Pada pertemuan ini disampaikan paparan tentang Kesehatan MONUC seperti MONUC Military Health Section oleh Force Medical Officer Col Dr. Moussa Madouqou (Niger), Medical Treaths in DRC oleh Medical Training Officer Letkol Dr. Syamsul Hadi (Indonesia), Standard Operating Procedure of Medevac and Casevac Operacional Readyness Inspection Medical Inspections , Contingent Owned Equipment Medical Inspections , HIV / AIDS Policy serta Force Medical Office SOP. Juga diadakan Round Table Opened Discussions yang menampung semua permasalahan yang ada di masing-masing unit serta tanggapan dari Force Medical Officer terhadap permasalahan tersebut.


